Senin, 10 April 2017

Gelombang Laut Merah di Perairan FISH


Disebuah Universitas Negeri Surabaya, terciptalah sebuah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum yang biasa disebut dengan (FISH). Fakultas ini tempat mahasiswa menggapai sejuta impiannya, menaruh setiap harapannya serta menggantungkan banyak keinginannya. Memang terdengar agak hiperbola, dan jangan tergesa-gesa untuk mempercayainya karena jawabannya ada pada saat anda sendiri telah memasuki fakultas tersebut dan mendeklarasikan diri anda sebagai salah seorang sivitas akademika didalamnya. Namun jika telah memasuki FISH, pastikan anda telah siap dengan kapal yang siap menghadapi ombak atau minimal perahu yang tidak sedikitpun rapuh kayunya.
Dalam perspektif politik, FISH dapat dikatakan fakultas yang kaya dengan kebhinekaan golongannya. Mahasiswa disuguhkan dengan berbagai macam organisasi baik intra maupun ekstra kampus yang mengajak mereka menjadi pelaku langsung didunia revolusioner universitas dan pasti tidak akan terlepas dengan dunia politiknya. Dalam setiap agenda tahunan diadakan sebuah pesta demokrasi yang disebut Pemira (Pemilihan Raya) dimana setiap golongan itu akan berperang merebutkan suatu posisi yang secara nilai dan norma dianggap penting disebuah fakultas. Mereka yang mau dan mampu bersaing akan memperoleh sebuah hadiah struktural hierarki yang tinggi, namun yang kalah dan tertinggal akan berakhir sebagai mahasiswa sub-ordinat dan biasanya mengalami proses marginalisasi. Bagi yang telah berhasil mendapatkan posisi yang diperjuangkannya tidak akan berhenti begitu saja, mereka akan berusaha untuk menggapai posisi yang lebih tinggi atau minimal mempertahankan posisi tersebut. Dan bagi yang kalah tidak akan begitu saja menerima sebuah kenyataan mereka gugur dimedan perang akan tetapi mereka akan mempersiapkan strategi baru untuk perang yang akan datang. Bagi mahasiswa yang memilih untuk tidak ikut masuk dalam ranah ini atau memilih untuk hanya mempeng berkuliah dan menyelesaikan tugas-tugas makalahnya akan baik-baik saja tapi mereka adalah ikan yang berada dibalik batukarang, tidak bertemu dengan gelombang dan mangsa tapi mereka juga tidak mendapati mutiara yang bertebaran dilautan. Memang terkesan agak kejam ketika mereka-mereka yang gagal meraih kemenangan dimedan perang akan mengalami sebuah proses marginalisasi, namun sebenarnya inilah awal dari kebangkitan mereka.
Seorang pemikir sosiolog Lewis A. Coser pernah mencetuskan sebuah teori konflik fungsional dimana konflik tidak selalu negativ atau bersifat disfungsional bagi sistem yang bersangkutan, akan tetapi konflik bisa bersifat menguntungkan dan mempunyai kensekuensi yang positiv.[1] Gejolak inilah yang menjadi suatu kelebihan besar bagi mahasiswa FISH dimana situasi seperti ini jarang didapatkan di fakultas lain.
Pada sektor sarana dan prasarana, FISH memperkenalkan sebuah sistem pendidikan survival bagi mahasiswa. Setiap prodi atau jurusan di FISH menyediakan suatu tempat referensi atau perpustakaan. Hal inilah yang menjadikan mahasiswa FISH tidak lagi mempermasalahkan suatu wifi yang tidak berfungsi karena mereka dapat mendapatkan sumber informasi yang lebih terjamin kebenaran dan keabsahannya. Inilah pendidikan laten yang diterapkan di FISH, dimana generasi saat ini sangat marak fenomena plagiat dan belajar instan ala google tapi mahasiswa FISH mendobrak sebuah polemik dengan menjadikan buku-buku di perpustakaan kembali naik martabatnya. Bagaimanapun mahasiswa FISH tetaplah ikan yang hidup di laut, mereka tidak akan gentar menghadapi suatu masalah atau problematika karena ide mereka luas, seluas samudera.
Awal pembahasan memang bukan mengenai sebuah fakultas yang mentereng dan lengkap dengan ornament-ornamen fasilitasnya yang ketika kita melihatnya akan terbesit sebuah kata, awesome. Akan tetapi membahas tentang analogi sebuah fish, iya fish yang berarti ikan yang hidupnya penuh dengan rintangan-rintangan yang menjadikannya kaya dengan jiwa-jiwa fighting dan survive. Ikan ini tidak hidup ditambak atau di kolam penangkaran, akan tetapi ikan ini hidup disebuah samudera yang penuh dengan pemangsa yang siap melahapnya ketika dia lengah atau bahkan tidak siap untuk hidup. Ikan yang hidup ditambak memang akan merasa terjamin karena dia berada di zona yang nyaman. Ikan tambak hidup dalam keadaan homogen, makanan telah disediakan, air dalam kurun waktu tertentu akan dibersihkan, jika dalam bahasa jawa biasa disebut “kepomoh”. Namun ketika mereka dihadapkan oleh sebuah masalah, katakanlah cuaca yang buruk atau suhu yang tidak menentu mereka akan stres dan kebanyakan berakhir mengambang dipermukaan air, mati. Hal inilah yang menjadikan perbedaan yang signifikan dengan ikan yang terbiasa hidup disamudera, apapun akan mereka lakukan agar mereka tetap hidup dan bereksistensi . Hanya ada 2 pilihan untuk ikan kedua ini, berjuang atau mati. Inilah gelombang yang dimaksud pada Laut Merah. pada suatu titik di Laut Merah terdapat suatu wilayah yang disebut majma Al Bahrain, yakni tempat bertemunya 2 air, yakni air tawar dan air asin. Majma Al Bahrain dianalogikan sebagai tempat muara pertentangan dan konflik akan tetapi dapat menjadikan sumber kehidupan bagi mahkluk-makhluk disekitarnya. Pada zaman nabi Musa As, ikan-ikan nabi Musa yang telah dimasak dapat melompat dari perahu menuju laut dan berenang kembali pada saat melintasi kawasan Majma Al Bahrain.
Dalam menyikapi hal ini, jika kita sebagai sivitas akademik yang mempunyai status tinggi dalam fakultas maka hendaknya kita sadar betul bagaimana potensi-potensi FISH harus tetap dipertahankan dan dikembangkan. Jika dalam sebuah fakultas yang mahasiswanya heterogen seperti FISH, akan lebih baik jika digalakkan kegiatan-kegiatan yang bersifat mempertemukan mereka dalam suatu wadah, bisa kedalam suatu forum diskusi atau kompetisi selain pesta demokrasi yang telah disebutkan diatas. Sehingga mahasiswa FISH mempunyai suatu sekat atau dinding batas untuk peran dan status mereka. Mereka tidak lagi memikirkan suatu warna dalam golongan ketika mereka berada dalam forum-forum tertentu dan tujuan mereka dapat disatukan untuk mewujudakan FISH yang lebih hebat. Dan dalam keanekaragaman inilah yang membuat FISH dikenal dimanapun berada, sekali lagi jangkauan FISH tidak selebar tambak tapi seluas samudera.
Secercah goresan tinta dari tulisan ini bermaksud menunjukkan fakultas yang baik bukanlah fakultas yang tenang dan adem ayem. Akan tetapi fakultas yang baik adalah fakultas yang dimana mahasiswa didalamnya ikut turut andil dalam upaya penegakan kebaikan di sistemnya. Zona nyaman sering kali mengelabui kita untuk bersenang-senang dan sedikit demi sedikit lupa kehidupan selanjutnya. Akan tetapi FISH mengajarkan untuk sadar bahwa siapa diri kita ditentukan bagaimana upaya membentuk diri kita sendiri. Jika FISH berarti ikan, maka jangan menjadi ikan yang berada di tambak tapi hiduplah layaknya ikan yang berada di lautan.

NB : Essay ini dikirim untuk mengikuti ajang DUTA FISH dikampus UNESA tercinta. wkwk :D :* saya termasuk finalis loh. Mungkin panitia gagal paham.



Daftar Pustaka
Hidayat, Rakhmat. Pengantar Sosiologi Kurikulum. Rajawali Press. Jakarta. 2011
Indriani Dewi, dkk. Teori Konflik menurut Lewis Coser. http://ronikurosaky.blogspot.co.id (diakses pada tanggal 1 Oktober 2016, pukul 15.14 WIB)




[1] Indriani Dewi, dkk. Teori Konflik menurut Lewis Coser. http://ronikurosaky.blogspot.co.id (diakses pada tanggal 1 Oktober 2016, pukul 15.14 WIB)