Disebuah Universitas Negeri Surabaya, terciptalah
sebuah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum yang biasa disebut dengan (FISH).
Fakultas ini tempat mahasiswa menggapai sejuta impiannya, menaruh setiap
harapannya serta menggantungkan banyak keinginannya. Memang terdengar agak
hiperbola, dan jangan tergesa-gesa untuk mempercayainya karena jawabannya ada
pada saat anda sendiri telah memasuki fakultas tersebut dan mendeklarasikan
diri anda sebagai salah seorang sivitas akademika didalamnya. Namun jika telah
memasuki FISH, pastikan anda telah siap dengan kapal yang siap menghadapi ombak
atau minimal perahu yang tidak sedikitpun rapuh kayunya.
Dalam perspektif politik, FISH dapat dikatakan
fakultas yang kaya dengan kebhinekaan golongannya. Mahasiswa disuguhkan dengan
berbagai macam organisasi baik intra maupun ekstra kampus yang mengajak mereka
menjadi pelaku langsung didunia revolusioner universitas dan pasti tidak akan
terlepas dengan dunia politiknya. Dalam setiap agenda tahunan diadakan sebuah
pesta demokrasi yang disebut Pemira (Pemilihan Raya) dimana setiap golongan itu
akan berperang merebutkan suatu posisi yang secara nilai dan norma dianggap
penting disebuah fakultas. Mereka yang mau dan mampu bersaing akan memperoleh
sebuah hadiah struktural hierarki yang tinggi, namun yang kalah dan tertinggal
akan berakhir sebagai mahasiswa sub-ordinat dan biasanya mengalami proses
marginalisasi. Bagi yang telah berhasil mendapatkan posisi yang
diperjuangkannya tidak akan berhenti begitu saja, mereka akan berusaha untuk
menggapai posisi yang lebih tinggi atau minimal mempertahankan posisi tersebut.
Dan bagi yang kalah tidak akan begitu saja menerima sebuah kenyataan mereka
gugur dimedan perang akan tetapi mereka akan mempersiapkan strategi baru untuk
perang yang akan datang. Bagi mahasiswa yang memilih untuk tidak ikut masuk
dalam ranah ini atau memilih untuk hanya mempeng berkuliah dan menyelesaikan
tugas-tugas makalahnya akan baik-baik saja tapi mereka adalah ikan yang berada
dibalik batukarang, tidak bertemu dengan gelombang dan mangsa tapi mereka juga
tidak mendapati mutiara yang bertebaran dilautan. Memang terkesan agak kejam
ketika mereka-mereka yang gagal meraih kemenangan dimedan perang akan mengalami
sebuah proses marginalisasi, namun sebenarnya inilah awal dari kebangkitan
mereka.
Seorang pemikir sosiolog Lewis A. Coser pernah
mencetuskan sebuah teori konflik fungsional dimana konflik tidak selalu negativ
atau bersifat disfungsional bagi sistem yang bersangkutan, akan tetapi konflik
bisa bersifat menguntungkan dan mempunyai kensekuensi yang positiv.[1]
Gejolak inilah yang menjadi suatu kelebihan besar bagi mahasiswa FISH dimana
situasi seperti ini jarang didapatkan di fakultas lain.
Pada sektor sarana dan prasarana, FISH
memperkenalkan sebuah sistem pendidikan survival bagi mahasiswa. Setiap prodi
atau jurusan di FISH menyediakan suatu tempat referensi atau perpustakaan. Hal
inilah yang menjadikan mahasiswa FISH tidak lagi mempermasalahkan suatu wifi
yang tidak berfungsi karena mereka dapat mendapatkan sumber informasi yang lebih
terjamin kebenaran dan keabsahannya. Inilah pendidikan laten yang diterapkan di
FISH, dimana generasi saat ini sangat marak fenomena plagiat dan belajar instan
ala google tapi mahasiswa FISH mendobrak sebuah polemik dengan menjadikan
buku-buku di perpustakaan kembali naik martabatnya. Bagaimanapun mahasiswa FISH
tetaplah ikan yang hidup di laut, mereka tidak akan gentar menghadapi suatu
masalah atau problematika karena ide mereka luas, seluas samudera.
Awal pembahasan memang bukan mengenai sebuah
fakultas yang mentereng dan lengkap dengan ornament-ornamen fasilitasnya yang
ketika kita melihatnya akan terbesit sebuah kata, awesome. Akan tetapi membahas
tentang analogi sebuah fish, iya fish yang berarti ikan yang hidupnya penuh
dengan rintangan-rintangan yang menjadikannya kaya dengan jiwa-jiwa fighting
dan survive. Ikan ini tidak hidup ditambak atau di kolam penangkaran, akan
tetapi ikan ini hidup disebuah samudera yang penuh dengan pemangsa yang siap
melahapnya ketika dia lengah atau bahkan tidak siap untuk hidup. Ikan yang
hidup ditambak memang akan merasa terjamin karena dia berada di zona yang
nyaman. Ikan tambak hidup dalam keadaan homogen, makanan telah disediakan, air
dalam kurun waktu tertentu akan dibersihkan, jika dalam bahasa jawa biasa
disebut “kepomoh”. Namun ketika mereka dihadapkan oleh sebuah masalah,
katakanlah cuaca yang buruk atau suhu yang tidak menentu mereka akan stres dan
kebanyakan berakhir mengambang dipermukaan air, mati. Hal inilah yang
menjadikan perbedaan yang signifikan dengan ikan yang terbiasa hidup
disamudera, apapun akan mereka lakukan agar mereka tetap hidup dan
bereksistensi . Hanya ada 2 pilihan untuk ikan kedua ini, berjuang atau mati. Inilah
gelombang yang dimaksud pada Laut Merah. pada suatu titik di Laut Merah
terdapat suatu wilayah yang disebut majma Al Bahrain, yakni tempat bertemunya 2
air, yakni air tawar dan air asin. Majma Al Bahrain dianalogikan sebagai tempat
muara pertentangan dan konflik akan tetapi dapat menjadikan sumber kehidupan
bagi mahkluk-makhluk disekitarnya. Pada zaman nabi Musa As, ikan-ikan nabi Musa
yang telah dimasak dapat melompat dari perahu menuju laut dan berenang kembali
pada saat melintasi kawasan Majma Al Bahrain.
Dalam menyikapi hal ini, jika kita sebagai sivitas
akademik yang mempunyai status tinggi dalam fakultas maka hendaknya kita sadar
betul bagaimana potensi-potensi FISH harus tetap dipertahankan dan
dikembangkan. Jika dalam sebuah fakultas yang mahasiswanya heterogen seperti
FISH, akan lebih baik jika digalakkan kegiatan-kegiatan yang bersifat
mempertemukan mereka dalam suatu wadah, bisa kedalam suatu forum diskusi atau
kompetisi selain pesta demokrasi yang telah disebutkan diatas. Sehingga
mahasiswa FISH mempunyai suatu sekat atau dinding batas untuk peran dan status
mereka. Mereka tidak lagi memikirkan suatu warna dalam golongan ketika mereka
berada dalam forum-forum tertentu dan tujuan mereka dapat disatukan untuk
mewujudakan FISH yang lebih hebat. Dan dalam keanekaragaman inilah yang membuat
FISH dikenal dimanapun berada, sekali lagi jangkauan FISH tidak selebar tambak
tapi seluas samudera.
Secercah goresan tinta dari tulisan ini bermaksud menunjukkan
fakultas yang baik bukanlah fakultas yang tenang dan adem ayem. Akan tetapi
fakultas yang baik adalah fakultas yang dimana mahasiswa didalamnya ikut turut
andil dalam upaya penegakan kebaikan di sistemnya. Zona nyaman sering kali
mengelabui kita untuk bersenang-senang dan sedikit demi sedikit lupa kehidupan
selanjutnya. Akan tetapi FISH mengajarkan untuk sadar bahwa siapa diri kita
ditentukan bagaimana upaya membentuk diri kita sendiri. Jika FISH berarti ikan,
maka jangan menjadi ikan yang berada di tambak tapi hiduplah layaknya ikan yang
berada di lautan.
NB : Essay ini dikirim untuk mengikuti ajang DUTA FISH dikampus UNESA tercinta. wkwk :D :* saya termasuk finalis loh. Mungkin panitia gagal paham.
NB : Essay ini dikirim untuk mengikuti ajang DUTA FISH dikampus UNESA tercinta. wkwk :D :* saya termasuk finalis loh. Mungkin panitia gagal paham.
Daftar Pustaka
Hidayat,
Rakhmat. Pengantar Sosiologi Kurikulum. Rajawali Press. Jakarta. 2011
Indriani Dewi,
dkk. Teori Konflik menurut Lewis Coser.
http://ronikurosaky.blogspot.co.id
(diakses pada tanggal 1 Oktober 2016, pukul 15.14 WIB)
[1]
Indriani Dewi, dkk. Teori Konflik menurut
Lewis Coser. http://ronikurosaky.blogspot.co.id
(diakses pada tanggal 1 Oktober 2016, pukul 15.14 WIB)