Minggu, 09 Juli 2017

Ramalan Marx dan Revolusi Kaum Jomblo


        Belum lunas nyawal sembari guyub maaf-memaafkan, umat jomblo ibu pertiwi dihajar telak 3-0 pada polemik era digital musim ini. Pertama, turunan Adam dikernyitkan keningnya oleh kabar Hamish Daud yg ujuk2 meminang pelantun lagu 'mantan terlincah' Raisa Adriana, Mei lalu. Balada yang Kedua, datang dari aktor Koriya, Song Jong Ki atau Song JongGol atau Song siapa itu saya agak lupa.  Kabarnya, adik Song Go Kong ini akan menikahi gadis yang juga bermarga singSong. Disusul yang ketiga, Jomblowati yang bergenre ukhti harus menerima notif pahit setelah ijab qabul imam kondang Muzamil 'ternyata berhasil sah ditemani mbak2 bercadar Jumat kemarin. Kalap sudah mimpi ukhtikers dapat mas kawin surat ar-rahman dari qori' idola.

          Dari sini, seorang filsuf nan tokoh ekonomi Karl Marx atau yg acap disapa Marx ini memang tidak pernah sekalipun menyinggung peradaban kaum jomblo dari era klasik sampai dengan postmo. Bahkan semasa hidup, blio tak sempat nyeletuk perihal haripatahhatisedunia lengkap dengan hastagnya. Alih-alih umek soal jomblo, ancaman kapitalisme kala itu sudah membuatnya lupa cara bercukur jenggot. Begitulah gaya Marx bertirakat.

        Marx berfatwa bahwa hak milik pribadi merupakan biang keladi dari kegaduhan tangis kaum proletar. Adanya hak milik atas alat2 produksi tidak lain akan memperdalam jurang pemisah antara kelas proletar dan kelas borjuis. Dalam kurun waktu yang tidak ditentukan Marx, kesenjangan ini akan menemukan jalan buntu dengan sistem kapitalis. Jumlah masyarakat kapitalis akan semakin sedikit dan massa proletar akan bersama-sama menuntut haknya. Benih-benih konflik dan revolusi sosial muncul sebagai tendensi ketertindasan kaum proletar yang dieksploitasi. Dan secara praksis, kaum proletar dari semua penjuru akan bersatu untuk merobohkan kapitaslisme.

          Akan tetapi kita tau bersama, sistem kapitalisme yang diramalkan Marx telah menggali liang lahatnya sendiri ternyata tidak kunjung modyar. Bahkan sampai lunas samsung S8 launching, kapitalisme kian gagah maglong2 sambil memakai kacamata hitam borjuisnya. Nampaknya, proletarian belum komplit untuk merobohkan tembok kapitalisme yang makin mentereng itu.

Tapi kali ini, sifat proletar nampaknya telah memiliki ahli waris yang bernama jomblo. Berangkat dari kerapnya di bully sampai pertanyaan tidak menyenangkan hati, akhirnya jomblo2 mengakomodasi massa yang senasib seperjuangan.

            Bukan bermaksud merendahkan jomblo dengan menyetarakannya proletar. Namun agaknya materialisme historis punya Marx, perlu diqiyaskan dengan konteks selain kerja sosial. Seperti mereka yang sudah tidak jomblo, adalah majikan atau pemilik absah alat produksi, dan jomblo adalah kaum tertindas yang tidak mempunyai modal produksi.

Agaknya, kita terlalu kaku menyikapi bahwa alat produksi hanya sebatas bidang tanah, mesin disel, mobil pickep, pabrik giling dan juga sapi. Dewasa ini, suara merdu, wajah bebifeis, bodi semlohe, dan juga trampil mengaji adalah alat produksi mutakhir untuk melepas kelajangan. Bukan cuma itu, keterikatan dengan bawahan bukan bersifat kebutuhan, terpaksa atau ketergantungan. Akan tetapi pada model ini, seorang yang mempunyai alat produksi melakukan pendekatan melalui rasa kagum, suka bahkan cinta. Sebenarnya masih ada yg tidak disebutkan, merangsang misalnya. Ediyan !

          Setelah para pemilik alat produksi seperti bokong semok ini telah mendapatkan pasangan, massa jomblo akan kian nampak riil. Hal ini tidak menutup kemungkinan, lambat laun kaum jomblo akan merapatkan barisan dan menuntut keadilan haknya. Yang jelas, kepada siapapun nanti ajuan tuntutannya, ini merupakan konsekuen bersama. Mereka akan menuntut hak dihargai, dihormati, dilindungi sama seperti yang lain, bahkan menindak tegas siapapun pelaku bully. Mungkin juga, mereka akan meminta agar status sosial mereka dianggap lebih tinggi. Hal ini, karena mereka juga mengganggap mempunyai alat produksi yang sebenarnya lebih baik sehingga belum ada satupun pasangan yang mampu bersamanya.

Maka dari itu, bolehlah kita tunggu kapan revolusi kaum jomblo akan mbejudul turun jalan. Akankah massanya lebih banyak dari aksi 212 ? Wallahualam bisshawab.

Kuy seruput dulu kopinya...